Thursday, December 2, 2010

Menganyam Kesabaran

"Kriiinnnggg!" Jam wekker di samping kepalaku berbunyi nyaring. Reflek
kugerakkan tanganku memencet tombolnya. Hmmm, jam 4.45. Kulihat Aa sudah
tidak ada di sampingku, aku bergerak menyalakan heater dan bergerak menuju
ruang sebelah. Di sana kulihat Aa tertidur dengan pulasnya. Dengan jaket
tebal dan sarungnya. Posisinya melingkar membuat tubuh Aa yang jangkung
tampak mengecil. Aku tersenyum. Rupanya Aa shalat malam tanpa membangunkan
aku. Terlihat terjemahan Al quran yg masih terbuka di samping kepala Aa.
Kututup perlahan terjemahan itu. Kuberjongkok di samping tubuh Aa, tersenyum
memandangi wajah Aa yang terlihat damai sekali.
"A..Aa..!" Kuguncang-guncang bahu Aa pelan. Aa menggeliat sebentar. Tapi
seakan tidak peduli malah membalikkan posisi tubuhnya membelakangiku.
Kuulang hal yang sama. Aa belum mau bangun juga. Kalau sudah begini, cuma
ada satu cara yang ampuh. Usapan air! Aku bergegas menuju dapur dan memutar
kran lalu mencuci tanganku. Siraman air dingin membuat sel-sel sarafku
bereaksi seketika. Rasa kantuk yang masih tersisa lenyap dibuatnya.
Kuusapkan tanganku yang dingin pada wajah Aa. Suamiku terbangun seketika dan
menatapku dengan wajah bangun tidurnya yang lucu.
"Assalamu'alaikum! Sudah mau jam 5..."kataku memandang Aa sambil menahan
tawa.
Aa bangkit dari tidurnya,"Hmm..gumamnya masih ogah-ogahan.
"Dede wudhu dulu..awas jangan ketiduran lagi!"ancamku sambil beranjak ke
kamar mandi. Subuh itu seperti biasa kami selesai shalat berjamaah kami
lewati dengan tilawah Al Quran dan doa Matsurat. Dan seperti biasanya
tilawah Aa lebih panjang dari pada lama tilawahku. Aku beranjak menuju dapur
untuk menyiapkan sarapan pagi dan mencuci pakaian. Ketika aku memasukkan
baju-baju kotor ke mesin cuci, ku dengar suara Aa:
"De..! Sudah nggak papa perutnya..? Katanya mulas habis dari Rumah sakit
kemarin.."
"Nggak, udah nggak papa, kok."sahutku. Kemarin memang hari di mana aku harus
pergi ke ahli kandungan untuk memeriksakan diri secara rutin tiap bulan.
Sebelum memasukkan obat itu ke dalam tubuhku, dokter wanita yang ramah itu
mengingatkanku, bahwa pengobatan seperti ini memang menyakitkan. Jadi aku
bisa menolaknya kalau tidak tahan. Tapi kupikir-pikir toh sama saja sakit
sekarang atau nanti. Maka kubilang pada dokter tersebut.
"iie. Daijoubu desu. Yatte kudasai, onegaishimasu.(tidak apa-apa. Tolong
laksanakan saja...)" Dokter Abe tertawa.
"Gaman site, ne...(bersabar ya, kalau sakit..)"
Dan benar saja. Perutku terasa diperas-peras, kepalaku gelap. Aku hampir
terjatuh ketika bangkit dari tempat tidur.
"Sebentar akan saya telfonkan taksi untuk mengantar anda pulang ke rumah!"
Kata dokter Abe bergegas keluar.Aku berterimakasih padanya sambil menahan
rasa mual yang tidak dapat kuceritakan rasanya. Sampai di rumah aku tak kuat
bangun lagi. Sehabis Ashar aku tak sempat lagi membuat makan malam buat Aa.
Ketika Aa pulang, dan mendapatkanku sedang tidur Aa sendiri yang memasak
makan malam. Alhamdulillah, Aa memang mengerti keadaanku, walaupun
sebenarnya tidak mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Tapi beliau tidak
marah karena tidak ditemuinya makan malam di meja makan, malah beliau
berinisiatif sendiri untuk memasaknya. Ya Allah terimakasih karena telah Kau
berikan seorang suami seperti Aa, kataku bersyuku dalam hati.
"Hei! Kok, bengong !" Aa mencolek bahuku. Aku terkejut, agak malu tertangkap
basah dalam keadaan bengong.
"Masak apa, De..? Mi goreng sajalah ya. Kan mi goreng buatan Aa jaminan
mutu.." Aa bergerak menuju wastafel dapur dan mulai membuka-buka kulkas. Aku
mengangguk saja. Mi goreng adalah masakan kebisaan Aa. Dan harus diakui
kadang-kadang rasanya jauh lebih enak dari buatanku. Pagi itu kami sarapan
pagi dengan mi goreng dan sup miso ala Aa. Sedap karena Aa menambah rasanya
dengan keikhlasan... Dan seperti biasa kami berpisah di dekat stasiun. Aku
ke kiri menuju kampusku yang telah berdiri di sana, sedang Aa ke kanan, ke
arah stasiun karena Aa harus ke kampus dengan kereta listrik.
"Nggak papa, De..? Kuat kuliah..?"tanya Aa lagi sebelum berpisah.
"Insya Allah nggak papa...Lagian cuma sebentar hari ini, seminar saja. Kan
giliran Dede yang harus presentasi.."jawabku berusaha menghilangkan
kekhawatiran Aa.
"Yah, sudah kalau nggak papa. Hati-hati, ya..Assalamu'alaikum!"
Aku mencium tangan Aa dan membalas salamnya. Kutunggu sampai tubuh jangkung
Aa hilang di pintu stasiun.

Aku dan Aa berselisih dua tahun. Kami menikah ketika aku tahun ketiga, dan
Aa sedang dalam proses menyelesaikan skripsinya. Kami berada di fakultas
yang sama, FMIPA, walau berbeda jurusan. Aku kimia, sedang Aa fisika.
Alhamdulillah, Allah menjawab doa-doa kami, dengan memberikan cinta dan
kasih sayangNya pada hati-hati kami. Walau kami tidak berpacaran seperti
yang biasa dilakukan orang-orang pada umunya, ternyata kami bisa cocok dan
saling memahami hingga usia perkawinan kami menjelang tahun ke enam
sekarang, tak ada percecokan yang sampai mengguncang bahtera yang kami
layari. Kalaupun ada mungkin keinginan kami untuk mempunyai anak...Tidak,
itu tak pernah mengguncangkan bahtera. Bahkan boleh dibilang memperkuat
ikatan tali hati kami. Ketika setelah dua tahun menikah Allah belum juga
mempercayakan amanah itu pada kami, aku sendiri masih tenang-tenang saja.
Aku memang tidak mempunyai siklus bulanan yang teratur sebagaimana wanita
normal. Tetapi melihat keturunan dari ibu dan bapak, keluargaku
termasuk"subur". Demikian pula Aa. Sampai akhirnya Aa pergi belajar ke
Jepang ditugaskan lembaga yang selama ini memberi Aa beasiswa, dan aku
menyusulnya satu tahun kemudian untuk menemani Aa setelah skripsi ku yang
sedikit berlarut-larut karena aku harus membagi waktuku sebagai seorang
istri dan mahasiswi, selesai disidangkan. Atas keinginanku yang disetujui
oleh Aa, akhirnya kami berdua berkonsultasi
pada dokter ahli kandungan yangsekarang ini. Kebetulan dan alhamdulillah
sekali beliau perempuan.. Dan setelah diteliti, ternyata benar dugaanku. Aa
normal, akulah yang sakit. Sehingga sejak satu setengah tahun lalu aku
berobat secara intensif. Walaupun belum tampak hasilnya hingga kini. Namun
atas dorongan semangat Aa, aku bisa terus sabar berusaha hingga kini. Dan
aku tahu, Aa juga menunjangnya dengan doa-doa di sujudnya yang lama setelah
shalat, sebagaimana yang juga aku lakukan.

Kesepian menunggu datangnya amanah itu bukannya tak pernah kami rasakan,
khususnya aku. Tanpa aku katakan pada Aa apa yang aku rasakan, Aa seakan
mengerti. Sehingga ketika hari tahun ajaran baru universitas dimulai, Aa
menyarankan agar aku melanjutkan sekolah saja. Di rumah sendiri bukannya tak
ada pekerjaan. Pekerjaan menterjemahkan secara bebas artikel-artikel bahasa
Inggris dan kukirim ke redaksi-redaksi majalah, adalah pekerjaan yang sudah
kumulai sejak aku masuk universitas. Lalu kursus Bahasa Arab gratis dengan
beberapa teman, ibu-ibu dari Mesir seminggu sekali. Dan pelajaran bahasa
Jepang secara autodidak yang aku lakukan melalui TV dan majalah berbahasa
Inggris_Jepang. Belum lagi pekerjaan rumah tangga, yang walaupun sebagian
besar serba otomatis tetapi membutuhkan kesabaran untuk melawan kebosanan
itu, juga menunggu. Tetapi waktuku yang banyak sendirian di rumah
kadang-kadang membuat aku tak kuat melawan sepi. Dan Aa mengerti benar
kecenderunganku tersebut. Dan akhirnya aku memilih masuk fakultas
pendidikan, dan mengambil spesialisai psikologi pendidikan. Karena aku
melihat Jepang mapan dalam pendidikan dasarnya. Sedari dulu aku tergelitik
untuk mengetahui "resep"nya. Tanpa pikir dua kali aku menyambut saran Aa.
Dan jadilah setahun yang lalu aku mahasiswi di universitas yang sama dengan
tempat Aa sekarang. Walaupun satu universitas tempat kami berjauhan. Dan
kami memutuskan untuk pindah ke tempat yang sekarang.
Hari-hari hanya berdua saja dengan Aa dari sisi lain kurasakan juga sebagai
anugerah Allah pada kami.
Karena belum disibukkan oleh anak, membuat aku lebih punya banyak waktu
memperhatikan Aa, berdiskusi banyak hal dengan Aa, dan lain-lain yang
kurasakan sangat mendekatkan aku dengan Aa. Jalan-jalan pagi atau sore
sepanjang sungai kerap kami lakukan. Dan ketika kami bertemu dengan pasangan
suami istri yang berjalan-jalan bersama buah hati mereka, tanpa sadar
mata-mata kami memandang pada si kecil yang yang memandangiku dengan
lucunya. Dan seperti biasa, kalau tidak aku atau Aa akan
berguman:"lucunya.."
"A, nanti anak kita lucu atau nggak, ya..?"
Atau: "De, mudah-mudahan anak kita juga lucunya kayak gitu.."Yang kuaminkan
dalam diam. Dan biasanya kami akan saling memandang dan tersenyum bersama.
Walau bagaimanapun kami merindukan kehadiran amanah itu, ya Allah..

Dan tibalah keajaiban itu, tepat empat bulan setelah itu, hawa dingin
sisa-sisa musim dingin masih tertinggal.
Bulan Februari akhir, beberapa hari sebelum Ramadhan. Aku menemui Dokter Abe
seperti biasa. Kali ini sambil membawa buku catatan suhuku yang kuukur
setiap hari. Ada debar-debar harap karena kulihat grafik suhu tersebut tidak
menurun. Tapi aku tak mau terlalu berharap. Karena takut kecewa yang
berlebihan, jika bukan berita baik yang kudapat. Dan dengan perasaan sedikit
tak tenang kutunggu hasil pemeriksaan urine. Dan ku dengar namaku
dipanggil."Aya-san!" Kudapati dokter Abe dengan ekpresi ramah seperti biasa.
"Duduklah,"katanya. Aku duduk dihadapannya sambil harap-harap cemas.
Dan.."Omedetou gozaimasu..(selamat..)"aku mendengar kata-kata itu dengan
kelegaan yang luar biasa, tetapi juga diiringi dengan tangis haruku yang
naik ke kerong-kongan."Positif.."kata dokter Abe melanjutkan.
Alhamdulillah, Alhamdulillahrabbil'alamin..Subhanallah...Ya Allah, Maha
Besar Engkau yang telah mengabulkan permintaan dan usaha hamba-hambaNya. Aku
bertasbih dan bertahmid dalam hati, air mata bahagia yang kurasakan hangat
keluar tanpa mampu kutahan lagi. Dokter Abe memandangku dengan senyumnya,
dan aku tahu dimatanya yang tersembunyi oleh kacamata itu ku dapati juga
kaca-kaca.
"Domou arigatou gozaimasu.."kataku berterimakasih padaNya. Dia menggeleng.
"Bukan saya yang
membuatnya demikian, tetapi Kamisama(Tuhan) lah yang memberikannya. Bukan
begitu Aya-san?" Aku mengangguk. Alhamdulillah, Segala puji bagi Engkau...
Sesampainya di rumah, aku seperti mempunyai tambahan energi baru. Aku masuk
soto ayam kesukaan Aa, kali ini tanpa pelit dengan daun sereh dan daun
jeruk, biar sedikit istimewa. Juga acar, sambel kecap, serta perkedel
jagung. Ketika dering telpon berbunyi, aku segera berlari mengangkatnya.
Pasti itu Aa. Benar saja...Sehabis menjawab salam Aa, tanpa memberi
kesempatan Aa berbicara aku berkata:"A, cepet pulang!..."

Dan hari-hari selanjutnya kurasakan lebih bergairah lagi. Walau janin di
perutku baru dua bulan, tapi aku yakin dia sudah merasakan apa yang aku
rasakan. Buku-buku tentang pendidikan janin dalam rahim, cara merawat
bayi,sampai majalah tentang permasalahan bayi, yang dulu sempat kuletakkan
jauh-jauh dari penglijatanku kupindahkan dekat rak buku-buku kuliahku. Uang
tabungan yang kusisihkan dari uang belanja kubelikan walkman. Juga tak lupa
aku rajin menggaris-garis buku pedoman pendidikan anak dalam Islam dan
kuingat-ingat bagian yang pentingnya. Kini hari-hari ku tak pernah
kulewatkan tanpa walkman yang memutar ayat-ayat Al-quran. Juga hari-hari di
rumah aku lewatkan dengan "mengobrol" dengan janinku. Sampai Aa iri, karena
aku bisa merasakan kehadiransi kecil lewat tubuhku, sedang Aa tidak.
Alhamdulillah, aku tidak banyak mengidam dan merasakan mual. Padahal aku
khawatir juga, karena sampai sekarang aku masih kuliah seperti biasa. Hanya
saja waktu membacaku kuhabiskan sebagian besar di rumah, bukan di
perpustakaan seperti biasanya. Karena di rumah aku lebih punya waktu dan
lebih bebas "bicara" dengan si kecil. Kali itu pemeriksaan kandunganku yang
keenam. Menurut hitungan dia sudah empat bulan usianya. Hari itu kuajak Aa
juga. Karena kata Dokter Abe kandungan ku mungkin sudah bisa dideteksi oleh
USG, maka beliau mengundang Aa juga untuk ikut menyaksikannya. Akan tetapi,
takdir Allah menentukan lain...
"Aya -san, terakhir memeriksakan kandungan tiga minggu yang lalu, ya..?"
Dokter Abe bertanya memastikan setelah selesai memeriksaku.
"Iya, sensei.."Aku mulai merasakan hal yang tidak enak menjalari hatiku.
"Heemm, bisa tolong panggil suami anda..?"
Dan aku berusaha tabah ketika mendengar penjelasan itu...
Janinku tidak berkembang...Penyebabnya sendiri belum diketahui secara
persis. Karena pada pemeriksaan terakhir dia masih "hidup". Aku harus
mengeluarkannya agar tidak meracuni rahimku...Aa menggegam tanganku erat.
Kurasakan tubuhku bergetar menahan tangis... Ya Allah..kutunggu
kedatangannya selama 5 tahun lebih..Mengapa dia Kau panggil tanpa sempat
kulihat wajah lucunya? Kenapa Kau panggil dia tanpa sempat aku rasakan
lembut kulitnya, indah bening matanya, dan tangisan rewelnya. Aa menggegam
tanganku lebih erat lagisambil berucap pelan, "Istighfar,
Dede..Istighfar.."Ya, seakan mengerti apa yang bergalau di hatiku.

Aku beristighfar dalam hati mencoba menghilangkan rasa penyesalanku atas
taqdir Allah. Tidak, aku tidak boleh menyalahkan Allah atas cobaan-Nya, seru
sebuah bagian hatiku. Tetapi kenapa Dia panggil anakku yang sudah begitu
lama kunantikan, tanpa memberiku kesempatan untuk jangankan membelainya,
bahkan merasakannya untuk lebih lama berdiam dalam perutku? Seru bagian
hatiku yang lain. Ya Allah, ampuni aku.
Ya Allah, ampuni aku...Akhirnya bagian hatiku yang bersih menyapu bagian
hatiku yang kotor. Dan
kutemukan diriku dalam keadaan tenang kembali. Ku dengar Aa berucap pelan
"Innalillaahi wa inna ilaihi Raaji'uun.." Dan dengan tenang menandatangani
formulir operasi buatku.

Empat hari aku di rumah sakit. Aku tak merasakan perubahan yang berarti pada
tubuhku. Tapi tidak demikian pada tubuhku. Aku merasakan kesendirian ketika
kusadari "anakku" tak ada lagi dalam diriku. Aa sendiri tak banyak berbicara
tentang masalah itu. Aa tampak berusaha bersikap biasa. Namun aku tahu Aa
menanggung kesedihan yang sama seperti yang kurasakan. Maghrib itu kami
berjamaah seperti biasa. Yang tidak biasa hanyalah itu pertama kali kami
shalat berjamaahan sejak kami, aku dan Aa, mengungsi di rumah sakit. Pada
rakaat yang kedua Aa membaca surat Al Baqoroh dari ayat 153. Dan suara Aa
bergetar ketika mencapai:
....
Walanabluwannakum bisyayi im minal khaufi wal juu'i wanaqshim minal amwaali
wal anfusi watstsamaraat. Wabasyiri shabiriin

Alladziina idzaa ashabathum mushibah,
qoluu inna lillaahi wa inna ilaihi raji'uun..

Ulaika alaihim shalawaatum mir rabbihim warahmah.
Wa ulaaika humul muhtadun...
...

(...
Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepada mu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita
gembira ke pada orang-orang yang sabar,yaitu orang-orang yang apabila
ditimpa mushibah mereka berucap: Innalillaahi wainna ilaihi raaji'unn.
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari
RabbNya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk
...)

Aku terisak di belakang Aa, mendengar teguran Allah yang lembut itu.
Betapaku rasakan Allah langsung menegur sekaligus menghiburku lewat
ayat-ayat tersebut. Selesai shalat, seperti biasanya Aa shalat rawatib ba'da
maghrib , lalu berdzikir sebentar. Tak lama kemudian membalikkan badannya ke
arahku. Aku menatap Aa. Kutemui mata yang cekung dan kurang tidur, karena
beberapa hari ini Aa harus menjalani hidup antara rumah, rumah sakit, dan
kampus, untuk menungguiku di rumah sakit. Kucium punggung tangan Aa seperti
biasanya. Aa tersenyum bijak dan mengelus kepalaku dengan tangan kirinya.
"Innallaaha ma'ashshabiriin, De.."katanya serak. Aa bukanlah tipe orang yang
mudah mengekspresikan emosinya lewat titik air mata. Tapi kali ini, kulihat
mata cekung Aa dipenuhi oleh kata-kata. Aku mengangguk pelan.
Kurasakan mataku memanas lagi, dan kurasakan pandanganku kabur karena
genangan air mata. Aa tak melepaskan genggaman tanganku, digenggamnya
erat-erat seolah ingin berbagi kekuatan dengan ku.
Ya Allah, jika Engkau masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang
Engkau berkati dan rahmati karena kesabaran kami menanggung cobaan, cobaan
yang tidak seberat yang dialami saudara-saudara seiman kami yang harus hidup
dalam ketakutan, kehilangan harta, bahkan nyawa dalam mempertahankan tanah
air Islam, maka bimbinglah kami terus untuk dapat terus menganyam
benang-benang kesabaran kami, agar menjadi kuat dan kokh sehingga mampu
menanggung cobaan yang lebih berat lagi...

(selesai..)
Keterangan:
Aa * bahasa sunda artinya sama dengan panggilan Mas(untuk orang Ja wa), atau
Abang (untuk orang Betawi)
Dede * bahasa Sunda, artinya sama dengan adi, jeng (atau apalah panggilan
sayang buat istri)
Miso * semacam tauco Indonesia terbuat dari beras, kedelai, dan garam
Domou arigatou gozaimasu *terimakasih banyak
.....san * cara orang Jepang memanggil lawan bicaranya
 

0 comments: