Sunday, December 26, 2010

Tipu Daya yang Menimpa Ahli Ibadah dan Ahli Amal

Oleh : Hujjatul Islam Al Ghazaly


Ahli ibadah dan ahli amal cukup banyak yang terpedaya, antara lain:

1. Kalangan yang terpedaya dalam shalatnya;
2. Kalangan yang terpedaya dalam membaca al-Qur’an;
3. Kalangan yang terpedaya dalam hajinya;
4. Kalangan yang terpedaya dalam perjuangannya;
5. Kalangan yang terpedaya dalam zuhudnya.

Di antara mereka ada yang mengabaikan ibadah fardhu dan sibuk dengan ibadah-ibadah sunnah. Ketika mereka menekuni secara berlebihan ibadah “sunnah, mereka sampai ke luar pada sikap ekstrim. Bahkan seperti orang yang waswas dalam berwudhu’, dimana terlalu berlebihan dan sampai tidak rela dengan air yang telah dihukumi suci menurut syariat, menimbang-nimbang yang tidak najis menjadi najis. Tetapi ketika dihadapkan makanan haram, ia mencari-cari yang dianggap bisa menghalalkan, bahkan mau memakan makanan yang benar-benar haram sekalipun. Seandainya di balik sikap hati-hatinya terhadap air ini ditunjukkan pula pada makanan, tentunya lebih baik, berdasarkan dalil sejarah sahabat – radhiyallahu ‘anhum – ketika Umar bin Khaththab r.a. berwudhu dengan air yang ada pada tempat air orang Nasrani, yang diragukan kesuciannya. Sementara orang tersebut meninggalkan pintu-pintu halal, karena khawatir terjerumus dalam keharaman.

Mereka sering terkena was-was dalam niat shalat, di mana syetan tidak pernah melepaskan gangguannya atas niat yang benar, sehingga dirinya terganggu dan kehilangan jamaah shalat. Sampai kemudian waktu shalat pun habis. Seandainya takbiratul ihram bisa dilakukan, toh dalam hatinya penuh keraguan, apakah sudah niat atau belum. Kadang-kadang syetan membuat was-was dalam takbir, sampai bisa mengubah sifat-sifat takbir karena sangat hati-hatinya, sementara bacaan al-Fatihah yang didengar berlalu. Semula terjadi di awal shalat, kemudian seluruh ibadah shalatnya terkena was-was. Hatinya tidak hadir dalam khusyu’ dan terpedaya oleh was-wasnya. Ia tak tahu bahwa kehadiran kalbu dalam shalat merupakan kewajiban. Sedangkan Iblis memperdayainya dan menghiasi dengan was-was tadi. Iblis berbisik kepadanya, “Was-wasmu itu, berarti membedakanmu dengan ibadahnya orang awam. Dirimu lebih baik di sisi Tuhanmu”.

Mereka juga dibelenggu was-was dalam mengeluarkan suara huruf al-Fatihah sesuai dengan makhrajnya, demikian pula seluruh dzikirnya. Mereka selalu ekstra hati-hati dalam hal-hal tasydid dan terlalu berlebihan dalam membedakan huruf dhadh dan tha. Tak ada kepentingan lain selain sibuk dengan upaya-upaya seperti itu. Mereka tidak merenungkan rahasia dan makna-makna al-Fatihah. Mereka tidak tahu bahwa manusia tidak diberi tugas membaca al-Qur’an dengan cara mentahqiq makhraj hurufnya, kecuali sekadar kebiasaan dalam bicara sehari-hari. Tentu suatu tipudaya besar terjadi di sini. Seperti mereka ini, adalah orang yang membawa surat kepada raja, dan diperintah untuk membacakan isinya di hadapan sang raja, lalu ia menunaikan dengan ucapan yang tereja dengan memfasih-fasihkan, diulang satu persatu, pada saat yang sama ia lupa apa isi yang terkandung dalam surat tersebut, hanya karena ingin menjaga kehormatan forum. Tentu ini tidak diragukan, bahwa ia mencari posisi politis, dan perlu dihantarkan ke rumah sakit gila, dikategorikan sebagai orang yang hilang akal.

Ada kalangan yang terpedaya melalui bacaan al-Qur’an. Mereka mempercepat bacaannya, agar sehari semalam bisa khatam, lisannya mengalir terus membaca, sementara hatinya mengkhayal ke mana-mana dan memikirkan duniawi. Hatinya tidak memikirkan makna-makna agar tidak bisa berbuat pelanggaran terhadap kandungannya, mencari nasihat melalui isinya, berpijak pada perintah dan larangannya, lalu memposisikan al-Qur’an sebagai pelajaran, menikmati maknanya bukan nadanya. Barangsiapa membaca al-Qur’an Kitabullah sehari semalam seratus kali lantas meninggalkan perintah dan larangannya, ia pun berhak mendapat siksa. Terkadang ia mempunyai suara yang merdu, membacanya dan menikmatinya bahkan terpedaya oleh keenakan bacaan tersebut. Lalu ia menduga bahwa kenikmatan itu merupakan kenikmatan munajat kepada Allah swt. dan mendengarkan Kalam-Nya. Sungguh jauh dari harapan! Sebab ia menikmati karena keindahan suaranya. Seandainya ia menemukan lezatnya Kalam Allah pasti ia abaikan suara dan keindahannya, sarna sekali tak ada hasrat dengan suara dan nada. Lezatnya Kalam Allah adalah dari segi kandungan makna. Sungguh, yang mengabaikan makna ini terpedaya secara besar-besayan.

Kalangan lain yang terpedaya dalam ibadah adalah mereka yang melakukan puasa. Kadang-kadang mereka puasa sepanjang tahun dan hari-hari mulia. Sementara mereka tidak mau menjaga lisannya dari pergunjingan, menjaga hatinya dari riya’, menjaga perutnya dari barang haram ketika berbuka, dan tidak menjaga dari sikap berlebihan. Mereka meninggalkan kewajiban yang ada, justru mementingkan yang sunnah. Mereka menduga bahwa mereka itu bisa selamat. Namun sebaliknya, sangat jauh dari selamat. Orang yang selamat adalah orang yang diberi anugerah hati yang selamat. Sedangkan ia berada dalam keterpedayaan yang dahsyat.
Yang lain juga ada yang terpedaya melalui ibadah haji, sementara dirinya tidak bisa keluar dari kezaliman, penunaian hutang, tidak mendapatkan ridha kedua orangtua, dan tidak mencari konsumsi halal. Kadang-kadang mereka mengabaikan shalat fardhu di tengah-tengah jalan, kadang-kadang merasa lemah untuk menyucikan pakaian dan badan. Mereka membiarkan pemungut cukai secara zalim, tidak menjaga tindakan kotor dan pertentangan di jalan. Kadang-kadang mereka mengumpulkan harta haram, lantas disedekahkan orang-orang miskin di jalan, semata untuk meraih riya’ dan pujian.
Pertama, ia telah berbuat maksiat karena mendapatkan barang haram.

Kedua, ia menginfakkan untuk riya’. Ketika sampai di Ka’bah, ia hadir dengan hati penuh noda akhlak dan kehinaan sifat-sifatnya, pada saat yang sama ia merasa dalam kebaikan di sisi Tuhannya. Padahal ia sangat terpedaya.

Ada kalangan yang terpedaya melalui jalan rasa takut kepada Allah dan amar ma’ruf nahi munkar, mereka melakukan aktivitas tersebut sementara lupa dengan diri sendiri. Ketika memerintahkan kebaikan, ia merasa radikal, semata untuk unjuk posisi dan kehormatan. Dan ketika bertemu dengan kemungkaran, lantas ada seseorang yang turut mengingkari dirinya, ia tampakkan kemarahannya, sembari berkata, “Aku ini penegak kebenaran, bagaimana Anda berani-beraninya menentang saya!” Kadang-kadang, ketika di masjid banyak orang berkumpul, ia berani menyalahkan orang yang datang terlambat, dengan ucapan-ucapannya. Kadang-kadang ia hanya menginginkan riya’, kagum pada diri sendiri dan posisi.

Tanda-tandanya jika di masjid itu ada orang lain yang berdiri lebih dahulu ia merasa jengkel. Di antara mereka ada yang melakukan adzan, dan menduga adzannya itu karena Allah. Namun ketika ada orang lain datang dan melakukan adzan saat ia tidak ada, ia merasa kiamat telah tiba. Lalu serentak ia mengomel, “Mengapa Anda mengambil hakku dan mendesakku!” Ada pula yang berambisi menjadi imam masjid, dengan menduga bahwa posisi itu baik, namun tujuannya agar dikatakan, orang ini adalah imam masjid ini dan itu. Tanda-tanda tipudaya yang mereka rengkuh adalah manakala ada orang lain yang lebih wara’ dan lebih alim maju untuk menjadi imam, ia merasa keberatan.

Ada kelompok lain yang hidup bermukim di kota Mekkah dan Madinah, namun terpedaya karenanya. Mereka tidak mengintrospeksi hatinya dan tidak menyucikan jiwa dan raganya, kadang-kadang malah hatinya senantiasa ada di negeri masing-masing.

Mereka saling berbicara bahwa dirinya telah mukim di kedua kota suci itu, “Saya mukim di Mekkah sekian tahun dan sekian tahun.” Ini berarti tertipudaya. Padahal yang lebih lurus adalah orang yang hidup di negeri masing-masing namun hatinya ada di Mekkah. Seandainya mukim di sana, hendaknya menjaga benar-benar hak-hak mukim yang sebenarnya. Jika tinggal di Mekkah hendaknya menjaga hak-hak Allah swt. Jika tinggal di Madinah hendaknya menjaga hak-hak Nabi saw.

Dan nyatanya mereka tidak bisa menjaga seperti itu, dan akhirnya terpedaya melalui tingkah laku lahiriahnya dengan asumsi tindakannya itu menyelamatkan mereka. Tentu sangat jauh dari tujuan sebenarnya. Kadang-kadang mereka ini malah tidak toleran dengan satu suapan saja buat orang-orang fakir miskin. Sungguh betapa sulit bagi mereka untuk bergaul bersama makhluk, lalu bagaimana ia bisa bergaul bersama Allah Sang Khalik? Alangkah indahnya orang yang bersahabat dan bertetangga dengan menjaga penuh jiwa dan raganya.

Ada kelompok ummat yang zuhud dengan harta benda, namun menerima pakaian dan makanan dengan cara yang hina, menempati masjid-masjid sebagai tempat tinggalnya. Mereka menyangka telah sampai pada tahap seorang zuhud, sementara mereka senang dalam posisi dan pangkat. Posisi kepemimpinan bisa diraih melalui, antara lain, ilmu pengetahuan, atau melalui nasihat yang diberikan atau melalui sikap zuhudnya itu. Mereka lebih memilih kehinaan menuju kehancuran terbesar. Sebab posisi tahta lebih besar nilainya dibanding harta.

Ada kalangan yang terpedaya melalui jalan rasa takut kepada Allah dan amar ma’ruf nahi munkar, mereka melakukan aktivitas tersebut sementara lupa dengan diri sendiri. Ketika memerintahkan kebaikan, ia merasa radikal, semata untuk unjuk posisi dan kehormatan

Seandainya orang harus memilih jalan selamat, apakah ia harus memilih harta atau tahta, pasti yang lebih mendekati selamat adalah harta.

Mereka semua terkena tipudaya. Mereka menyangka sebagai para zuhud duniawi, tetapi mereka tidak tahu apa sebenarnya makna dunia itu, sebab mereka seringkali memprioritaskan orang-orang kaya dibanding orang miskin.

Di antara mereka ada yang kagum terhadap ilmu pengetahuannya sendiri, ada pula yang memprioritaskan khalwat dan ‘uzlah, namun tindakannya tidak memenuhi syarat-syaratnya. Di antara mereka ada yang ketika diberi harta menolak, karena takut kalau zuhudnya batal, padahal sebenarnya cinta terhadap harta, hanya karena khawatir dicaci orang lain ia menolak harta tersebut.

Di antara mereka ada yang secara ekstrem melakukan amaliah fisik hingga ada yang shalat sehari semalam sampai seribu rakaat dan mengkhatamkan al-Qur’an. Seluruh tindakannya tidak untuk menjaga hatinya dari riya’, takabur, ta’jub dan seluruh akhlak yang destruktif Kadang-kadang mereka berasumsi bahwa amal-amal fisiknya bisa mengungguli seluruh kebajikan. Sungguh jauh apa yang mereka raih!

Tak sedikit pun ada takwa di hatinya. Dan anehnya, mereka pun ada yang berperilaku seperti cendekiawan yang dianggapnya lebih tinggi dari gunung, dengan cara beramal kebajikan fisik berlebihan. Lantas semakin terpedaya ketika ada orang yang berkata kepadanya, “Anda ini seperti wali autad penjaga bumi, atau termasuk Waliyullah dan kekasih-Nya.” Begitu senang ia mendengarkan pujian itu, lalu ia tambahkan kesucian jiwanya. Seandainya suatu hari ada orang yang memaki, sekali, dua kali atau tiga kali, ia mengkafirkan dan memerangi orang yang berbuat demikian sembari berkata kepada orang yang mencaci, “Anda tak akan diampuni Allah selama-lamanya!”

Kelompok lain ada yang berhasrat pada ibadah-ibadah sunnah, namun tidak menghormati ibadah fardhu. Anda melihat mereka dengan gembiranya ketika mereka bisa melakukan shalat dhuha dan shalat lail dan shalat-shalat nawafil lainnya. Namun mereka tidak menemukan kelezatan shalat fardhu, karena dilakukan secara tergesa-gesa di awal waktu. Ia lupa dengan sabda Nabi saw.:
“Tidak ada keutamaan bertaqarrub bagi orang-orang yang melakukan taqarrub, dibanding menunaikan ibadah yang difardhukan Allah kepada mereka”.

Meninggalkan prioritas-prioritas kebaikan termasuk tindakan buruk. Bahkan telah jelas dalam diri manusia ada dua fardhu: ada yang senjang, ada yang tidak senjang. Atau dua sunnah: ada yang waktunya sempit, ada yang waktunya luas. Manakala tertib prioritas ini tidak dijaga, berarti ia terkena tipudaya. Analisanya sangat banyak. Bahwa maksiat itu jelas. Karena itu seharusnya ada prioritas ketaatan satu dengan yang lain, seperti mendahulukan yang fardhu atas yang sunnah, mendahulukan fardhu ‘ain atas fardhu kifayah dimana fardhu ‘ain itu tidak bisa dibebaskan dengan adanya orang lain yang melakukannya, sebagaimana pada fardhu kifayah.

Mendahulukan fardhu-fardhu kifayah yang lebih penting kemudian pada fardhu ‘ain yang di bawahnya. Mendahulukan yang senjang, seperti memprioritaskan ibu dibanding ayah, mendahulukan nafkah kedua orangtua dibanding naik haji, mendahulukan shalat Jum’at manakala waktunya tiba dibanding shalat hari raya, dan mendahulukan kepentingan agama atas kepentingan yang lain. Betapa besar yang harus dipikul hamba dengan pelaksanaan dan perigatan seperti itu. Namun tipudaya dalam tertib ibadah seperti itu cukup banyak dan detail serta sangat samar, tidak bisa menganalisa kecuali para Ulama yang menghayati pendalaman ilmunya.
http://sefdin.wordpress.com/2009/08/14/ahli-ibadah-yang-tertipu/

0 comments: